Dampak Bullying pada Anak dan Cara Mengatasinya

Dipublish: Rabu, 17 April 2024 16:48 WIB

Diperbarui: Minggu, 21 Juni 2026 20:29 WIB

Dampak Bullying pada Anak dan Cara Mengatasinya
Ella Nurlaila

Ella Nurlaila

Bagikan :

Bullying pada anak semakin kerap ditemui. Miris sekali ya Mums, anak-anak yang seharusnya menjalani hari-hari yang ceria malah terlibat atau setidaknya mendengar berita soal bullying. Dampak bullying pada anak sangat berbahaya, bisa menyebabkan kecemasan, rasa rendah diri bahkan depresi.

Bullying itu tidak hanya kekerasan fisik ya Mums. Kekerasan verbal seperti memanggil anak dengan nama yang memalukan, nama ayahnya, ejekan, ucapan kebencian di dunia maya, juga termasuk bullying. Dampak bullying verbal ini ini sama mengerikannya dengan dampak bullying fisik.

Karena itu Mums perlu tahu cara mengatasi bullying pada anak. Artikel ini akan membahas tanda-tanda kekerasan atau bullying pada anak, dampak, dan cara mengatasinya tanpa  menimbulkan masalah baru. 


Apa itu bullying pada anak?

Jurnal NCBI (2023) secara global, satu dari tiga anak telah menjadi korban perundungan dalam 30 hari terakhir.  Perundungan adalah pola perilaku agresif atau menyakitkan yang berulang dan disengaja yang menargetkan individu yang dianggap lebih lemah.

Definisi formal CDC adalah "setiap perilaku agresif yang tidak diinginkan oleh remaja lain atau sekelompok remaja yang bukan saudara kandung atau pasangan pacaran saat ini yang melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan yang diamati atau dirasakan dan diulang beberapa kali atau sangat mungkin diulang."

Menurut British Journal of Medicine (2021), bullying atau perundungan di masa kanak-kanak merupakan masalah kesehatan masyarakat utama yang berdampak pada masalah kesehatan, sosial, dan pendidikan yang buruk pada masa kanak-kanak dan remaja. Sebelum dampaknya semakin besar, orang tua perlu mengenali tanda anak menjadi korban bullying agar bisa segera mengambil tindakan.

Konsekuensi ini dirasakan oleh semua pihak yang terlibat dalam perundungan, baik itu pelaku, korban, maupun  keluarga, yang dapat berlanjut hingga dewasa. Saat ini bahkan merambah ke cyber bullying, yaitu jenis perundungan yang relatif baru selain bentuk-bentuk perundungan fisik maupun verbal secara langsung. 

Tanda-Tanda Anak Dibully

Langkah awal cara mengatasi bullying pada anak adalah dengan mengenali tanda-tanda anak kita di-bully. Mums, tidak semua anak mau mengakui atau bercerita kepada orang tuanya bahwa mereka ditindas di sekolah oleh teman-temannya. Sering kali mereka malu dan mereka tidak yakin bagaimana reaksi orang tua.

Sebagian orang tua menganggap bullying adalah kenakalan anak biasa. Oleh karena itu, penting bagi Mums dan Dads untuk mewaspadai tanda-tanda anak di-bully berikut ini:

1.  Tidak mau ke  toilet sekolah

Sebagian besar perundungan terjadi di kamar mandi atau toilet sekolah, karena tidak ada kamera CCTV dan orang dewasa. Jadi kalau anak Mums tidak mau menggunakan toilet di sekolah dan akhirnya ngompol di kelas, Mums patut curiga. 

2. Perubahan ekspresi

Perhatikan perilaku anak, terutama saat ia menerima pesan atau panggilan yang masuk ke telepon genggamnya. Jika ada ekspresinya berubah kesal atau marah setelah menerima panggilan telepon atau pesan singkat di handphone, bisa jadi ia menerima “ancaman”.

3. Tidak berteman lagi

Tanda lain yang menunjukkan perubahan perilaku adalah mendadak ia tidak bermain lain dengan teman yang sebelumnya dekat.

4. Suka menyendiri

Anak menunjukkan perilaku tidak biasanya, misalnya menjadi lebih suka menyendiri dan absen dari aktivitas yang biasa mereka nikmati.

5. Pernyataan negatif

Hati-hati kalau anak Mums menjadi seirng membuat pernyataan negatif tentang diri mereka sendiri dan terlibat dalam pembicaraan negatif tentang diri mereka sendiri. Misalnya, “Aku tidak berguna”, “Aku tidak layak sekolah,” dan pernyataan negatif lainnya. 


Dampak bullying pada anak 

Anak-anak yang menjadi korban penindasan dapat mengalami masalah kesehatan fisik, sosial, emosional, akademis, dan mental yang negatif.

1. Depresi

Anak-anak yang menjadi korban perundungan lebih mungkin mengalami depresi dan kecemasan, mengalami rasa  sedih mendalam, dan kesepian.

2. Perubahan perilaku

Mereka juga akan mengalami perubahan pola tidur dan makan, serta hilangnya minat terhadap aktivitas yang biasa mereka nikmati. Masalah-masalah ini mungkin berlanjut hingga dewasa.

3. Penurunan prestasi akademik

Kadang, dampak bullying mengarah pada keluhan kesehatan dan penurunan prestasi akademik. Anak tidak lagi merasa nyaman di sekolah sehingga mencari alasan untuk bolos bahkan ingin putus sekolah.

4. Melakukan tindakan kekerasan

Sejumlah kecil anak korban bullying kelak akan membalas melalui tindakan yang lebih kejam. Dalam 12 dari 15 kasus penembakan di sekolah di Amerika Serikat, pada tahun 1990an, para penembak mempunyai riwayat perundungan.


Cara Mengatasi Bullying pada Anak

Sebagai langkah pencegahan, Mums bisa memahami yang harus dilakukan orang tua agar anak tidak dibully, mulai dari membangun komunikasi hingga melatih anak untuk berani bercerita. Namun, apabila anak sudah menunjukkan tanda-tanda korban bullying sejak dini, berikut beberapa cara mengatasi bullying pada anak yang bisa Mums coba:

1. Dengarkan apa kata anak 

Menjadi pendengar yang baik adalah bagian penting dari peran Mums saat mengetahui anak kita di-bully. Salah satu pertanyaan terbaik yang dapat Mums tanyakan kepada anak adalah: “Apa yang dapat Mama lakukan untuk membantu?”

Ketika anak memberi tahu apa yang terjadi di sekolah, dengarkan meskipun menyakitkan. Bersikaplah terbuka dan bersikap suportif tetapi netral saat dia berbicara. Jika Mums bereaksi terlalu keras, dia mungkin berhenti bicara karena takut akan membuat Mums marah.

Sisi lain dari mendengarkan adalah tidak menyalahkan anak. Jangan menyerahkan tanggung jawab atas penindasan tersebut kepadanya atau mencoba mencari alasannya. Menyalahkan anak akan membuatnya cemas dan membuat apa yang dikatakan anak tidak sepenuhnya jujur. 

2. Jangan membalas pelaku dan keluarganya

Meskipun Mums sangat terpukul, marah dan ingin mengambil tindakan sendiri dan membalas pelaku intimidasi atau keluarganya, jangan lakukan itu. Di sinilah Mums harus memberikan beberapa contoh kepada anak tentang cara memecahkan masalah.

Sangat sulit mendengar anak kita diancam atau dilecehkan. Tentu saja Mums ingin segera menuntaskan dendam. Namun ingat, membalas tidak akan membantu anak menyelesaikan masalah. Sebaliknya, tarik napas dalam-dalam dan pikirkan apa yang dapat Mums lakukan untuk membantu anak mengatasi apa yang dia hadapi.

3. Temui pihak sekolah

Menjadi tanggung jawab sekolah untuk menghentikan penindasan dan sebagian besar sekolah menanggapinya dengan serius. Pertemukan anak dengan konselor di sekolah jika ada. Minta ijin anak untuk sementara absen dari sekolah namun pastikan anak tetap berbicara, baik itu dengan Mums selaku orang tua, konselor, atau guru yang tepercaya.

4. Selalu berada di sisi anak

Apapun yang terjadi, Mums harus memastikan bahwa Mums akan selalu mendampinginya. Dia perlu memahami bahwa Mums tidak menyalahkannya.

5. Cari dukungan

Mums jangan bertindak sendiri. Pastikan untuk berbicara dengan pasangan, teman, atau dengan keluarga yang mendukung. Setidaknya, hal ini membantu meningkatkan semangat Mums bahwa Mums tidak sendirian dan tidak ada yang salah dengan anak Mums.

Mencegah bullying pada anak kita bisa dilakukan dengan selalu dekat dengan anak. Usahakan Mums dan Dads memiliki waktu setiap hari, waktu yang berkulitas di mana anak dapat bercerita dengan Mums dan sebaliknya Mums pun bercerita hal yang Mums alami dengan anak. Kedekatan dengan anak adalah langkah awal yang baik agar orang tua bisa memantau setiap perubahan yang terjadi sekecil apapun pada anak kita.


Apa yang tidak boleh dilakukan orang tua

Saat anak mengalami bullying, ada beberapa hal yang sebaiknya tidak dilakukan orang tua, karena bisa memperburuk kondisi emosional anak atau membuat masalah makin sulit diselesaikan.

Berikut yang perlu dihindari:


1. Menyalahkan anak

Hindari kalimat seperti “Kamu pasti bikin masalah dulu.” atau “Makanya jangan lemah.” Mums, anak yang dibully sering sudah merasa malu atau takut. Menyalahkan mereka bisa membuat mereka menutup diri dan lebih sulit untuk mengurai dan menyelesaikan masalah.

2. Menyuruh anak membalas dengan kekerasan

Sebagai orang tua, wajar kalau Mums dan Dads emosi melihat anak dibully. Tapi jangan juga menyuruh anak untuk membalas kekerasan dengan kekerasan. Hindari kalimat “Pukul balik aja kalau kamu dipukul!” Bukannya meredam masalah, tindakan balasan yang tidak tepat bisa memperbesar konflik dan membuat anak terkena masalah disiplin juga.

3. Jangan meremehkan

Mums dan Dads sudah hidup lebih lama, sudah kenyang pengalaman hidup. Jangan menganggap enteng apa yang dialami anak. Bagi orang tua mungkin sepele, tapi tidak bagi anak. Maka, hindari kata-kata meremehkan seperti “Ah, temenmu kan cuma bercanda.”  atau “Jangan cengeng, nanti juga lewat sendiri.”  Kalimat yang kerap diucapkan lainnya adalah “Dulu mama dan papa juga begitu.”

Ingat ya Mums, bullying bisa berdampak serius pada mental, rasa percaya diri, bahkan prestasi anak. Jadi jangan meremehkan tindakan bullying sekecil apapun. Karena bullying bisa memengaruhi kondisi emosional anak, Mums juga perlu mengetahui tanda anak mengalami gangguan kecemasan agar bisa memberikan bantuan yang sesuai.

4. Datang marah-marah ke pelaku atau orang tuanya di depan anak

Reaksi emosional yang meledak bisa membuat situasi makin panas dan anak makin takut. Reaktif boleh, tapi tetap rasional ya Mums.

5. Memaksa anak diam

Karena tidak ingin memperpanjang masalah atau orang tua terlalu sibuk, mungkin Mums dan Dads, cuma bilang “Sudah, jangan cerita ke siapa-siapa.”  atau “Biar keluarga kita nggak malu.”  Padahal Saat anak mengalami masa sulit, ia perlu merasa didengar dan didukung, bukan menghindari masalah.

6. Mengambil alih semua keputusan tanpa melibatkan anak

Ketika mencoba menyelesaikan masalah, dengarkan pendapat anak tentang langkah yang membuat mereka merasa aman. Ini membantu mereka merasa punya kontrol. 


Cara mencegah bullying

Mencegah bullying perlu dilakukan bersama oleh orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar anak. Berikut beberapa cara yang efektif:

1. Di rumah

  • Bangun komunikasi yang terbuka. Biasakan anak merasa aman untuk bercerita tanpa takut dimarahi atau diremehkan. 

  • Ajarkan empati sejak kecil  dengan memahami perasaan orang lain, menghargai perbedaan, dan tidak mengejek. 

  • Latih keberanian dan kepercayaan diri. Anak yang percaya diri biasanya lebih mudah mencari bantuan dan menetapkan batas. 

  • Ajarkan cara merespons bullying. Misalnya tetap tenang, menjauh dari situasi, mencari bantuan orang dewasa, tidak membalas kekerasan. 

  • Pantau penggunaan media sosial. Cyberbullying sering terjadi diam-diam. Kenali aplikasi yang digunakan anak dan ajarkan etika digital. 

2. Di sekolah

Mums sebaiknya memilih sekolah yang aman dan punya aturan jelas bahwa bullying tidak ditoleransi. Sekolah yang baik biasanya memiliki pengawasan ketat termasuk untuk area minim pengawasan: kantin, toilet, lorong, atau grup online kelas. 

Ajarkan si kecil keterampilan sosial dan ajarkan tentang empati, kerja sama, dan penyelesaian konflik membantu mengurangi perilaku bullying. Selain itu, anak perlu tahu kepada siapa mereka bisa melapor tanpa takut dibalas. 

Mums juga perlu memantau sirkel pertemanan yang sehat. Dorong anak berteman dengan orang yang suportif dan menghargai. Pencegahan bullying paling efektif ketika anak merasa didengar, dihargai, dan punya tempat aman untuk meminta bantuan.


Kapan harus lapor sekolah?

Orang tua sebaiknya segera melapor ke sekolah ketika bullying mulai memengaruhi keamanan, kesehatan mental, atau aktivitas belajar anak. Jangan menunggu sampai kondisinya berat.

Beberapa tanda bahwa sudah waktunya melapor:

  • Bullying terjadi berulang. 

  • Ada ancaman, intimidasi, atau pemerasan. 

  • Anak mengalami luka fisik atau barangnya dirusak/diambil. 

  • Anak takut pergi ke sekolah. 

  • Nilai turun drastis atau sering bolos. 

  • Anak tampak cemas, murung, sulit tidur, atau menarik diri. 

  • Bullying terjadi di grup kelas/media sosial yang melibatkan teman sekolah. 

  • Anak sudah mencoba menghindar, tetapi perilaku tetap berlanjut. 

Saat melapor ke sekolah, lebih efektif jika Mums membawa catatan kejadian (tanggal, tempat, siapa yang terlibat), menyimpan screenshot jika ada cyberbullying, fokus pada keselamatan dan solusi, bukan langsung menyalahkan, dan meminta tindak lanjut yang jelas dari pihak sekolah. 

Jika respons sekolah kurang memadai dan kondisi anak makin serius, orang tua bisa meminta pertemuan dengan pihak yang lebih tinggi di sekolah, mencari bantuan konselor atau psikolog, atau melibatkan pihak berwenang bila ada kekerasan fisik, ancaman serius, atau pelecehan berat. 


Kesimpulan

Saat anak mengalami kekerasan di sekolah, orang tua harus respons cepat, segera mengambil tindakan dan pikiran tetap tenang dan fokus. Yang penting, anak tahu bahwa orang tuanya mendukung dan akan membantu melindungi mereka. 

Jangan mencoba menyelesaikan persoalan dengan balas dendam dengan kekerasan juga. Libatkan pihak sekolah untuk menyelesaikan kasus bullying. Ketika masalah sudah selesai, pertimbangkan untuk mencari sekolah yang lebih aman dan lingkungan yang bebas bullying. 


Referesi

NCBI. 2023. Identifying and Addressing Bullying

British Journal of Medicine. 2021. Bullying in children: impact on child health

Unicef. Bullying: What is it and how to stop it

Kasih Saran, Yuk!