Edukasi seks di rumah tetap perlu dilakukan, bahkan sebelum anak masuk sekolah atau sejak usia 3 tahun dengan cara dan bahasa yang sesuai dengan usianya. Penelitian yang dimuat dalam jurnal MDPI (2026) menyebutkan bahwa tujuan edukasi seks bukan hanya mengajarkan anatomi, tetapi juga membekali mereka dengan pengetahuan, keterampilan berpikir kritis, sikap bertanggung jawab, dan nilai-nilai yang positif tentang tubuh, hubungan, dan kesehatan reproduksi.
Selain manfaat di atas, memberikan edukasi seks kepada anak juga dapat terhindar dari bahaya kecanduan konten pornografi. Penelitian internasional secara konsisten menunjukkan bahwa pendidikan seksual yang komprehensif dapat meningkatkan kesehatan fisik dan emosional anak serta mencegah perilaku berisiko seperti infeksi menular seksual dan kehamilan di usia dini.
Artikel ini akan mengulas informasi lengkap mengenai cara memberikan edukasi seks untuk anak maupun remaja, hingga cara memberikan edukasi yang tepat sesuai dengan usia anak, mulai dari usia 3 hingga 18 tahun ke atas.
Cara memberikan edukasi seks untuk anak dan remaja
Pentingnya pendidikan seks pada anak dan remaja menjadikannya masuk dalam kurikulum pendidikan. Namun demikian belum tentu anak dan remaja memahami sepenuhnya edukasi seks dari yang diajarkan di sekolah karena keterbatasan waktu.
Selain itu, mungkin ada perasaan canggung sehingga anak tidak sepenuhnya memahami hal tersebut. Memang edukasi seks mungkin sulit dibicarakan. Tetapi lebih sulit lagi untuk mencegah dampak buruknya.
Bagi Mums yang masih bingung dan canggung bagaimana memberikan edukasi seks pada anak dan remaja di rumah, berikut ini beberapa rekomendasi cara yang layak dicoba:
1. Gunakan momen sehari-hari
Ketika unsur seks muncul dalam sebuah acara atau lagu, gunakan itu sebagai cara untuk memulai pembicaraan. Momen sehari-hari, seperti saat berkendara di dalam mobil atau menyimpan belanjaan, seringkali merupakan kesempatan terbaik untuk berbicara.
2. Sejak dini
Bicaralah sejak dini dan sering. Pembicaraan tentang organ intim perempuan dan laki-laki, yaitu penis dan vagina, sekali saja tidak cukup. Mulailah berbicara dengan anak dan remaja tentang seks aman selama masa praremaja. Lanjutkan pembicaraan hingga dewasa muda. Ubah pembicaraan agar sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan.
3. Jujurlah
Jika Mums merasa tidak nyaman, katakan saja. Tetapi teruslah berbicara. Jika Mums tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan anak, tawarkan untuk mencari jawabannya atau mencarinya bersama-sama.
4. Bersikaplah lugas
Nyatakan dengan jelas perasaan Mums tentang seks. Berikan fakta tentang risiko seperti rasa sakit emosional, infeksi menular seksual (IMS), dan kehamilan yang tidak direncanakan. Jelaskan bahwa seks oral bukanlah pilihan bebas risiko sebagai pengganti hubungan seksual.
5. Gunakan sudut pandang remaja
Pembicaraan yang kaku, menakut-nakuti dapat menghentikan koneksi dan memicu anak memberontak. Sebaliknya, dengarkan ia berbicara dari sudut pandangnya sebagai remaja. Pahami tekanan, tantangan, dan kekhawatiran yang ada padanya.
6. Beri ruang
Sampaikan pada anak bahwa ketika muncul pertanyaan atau kekhawatiran, jangan ragu untuk berdiskusi dengan orang tua. Beri ruang dan apresiasi ketika ia mau bicara terbuka.
7. Mengatasi topik-topik sulit
Pendidikan seks untuk remaja tidak hanya soal bahaya hubungan seks tanpa pengaman, identitas gender, orientasi seksual, kekerasan dalam berpacaran, tetapi bersiaplah untuk topik-topik sulit lainnya. Pastikan orang tua punya wawasan soal ini, itu sebabnya bacalah sumber informasi yang akurat dan kredibel sehingga bisa menjelaskan pada anak ketika ia bertanya tentang topik-topik sulit soal seks.
Kapan edukasi seks perlu dilakukan?
Mums, selain cara yang tepat, pemberian edukasi seks juga mesti dilakukan di waktu yang tepat. Tujuannya agar anak dan remaja punya pemahaman sejak dini, artinya tidak terlambat menunggu sesuatu terjadi.
Menurut WHO (2023) memberikan edukasi seks sejak dini membantu anak memahami tubuhnya dan mengurangi rasa malu atau bingung ketika mereka menghadapi perubahan pubertas dan tekanan sosial.
Berikut ini waktu yang tepat memberikan edukasi seks pada anak menurut rekomendasi dari World Health Organization (WHO) yang perlu dimulai sejak dini dan disesuaikan dengan tahap perkembangan anak:
Usia 3-5 tahun
Ajarkan anak mengenal bagian tubuh termasuk area genital, jelaskan tentang privasi, batasan yang aman yang tidak boleh disentuh oleh orang lain.
Usia 6-8 tahun
Jelaskan tentang perbedaan jenis kelamin, pentingnya rasa hormat terhadap orang lain terutama yang lawan jenis. Jelaskan pula tentang hubungan sosial yang saling menghormati dan menghargai orang lain.
Usia 10-13 tahun
Periode ini disebut masa pubertas awal. Jelaskan tentang pubertas yang dialami, bahwa terjadi perubahan fisik, emosi, dan perlunya menjaga kebersihan diri agar terhindar dari risiko penyakit yang muncul di masa pubertas ini.
Usia 14-17 tahun
Masa remaja pertengahan yang perlu diajarkan pada remaja terkait edukasi seks adalah soal hubungan yang sehat, batasan pribadi yang boleh dan tidak boleh, risiko penyakit terkait aktivitas seksual, termasuk penggunaan alat kontrasepsi.
Usia 18 tahun ke atas
Di fase remaja akhir menuju dewasa ini, tekankan pada anak tentang pentingnya tanggung jawab sebagai individu dewasa terutama terkait hubungan intim dan reproduksi secara umum. Ingatkan pula tentang nilai-nilai keluarga dan norma agama agar menjadi benteng bagi anak untuk tidak melampaui batas.
Mum, edukasi seks pada anak dan remaja bukan sekadar memberikan fakta atau informasi soal biologis tubuh saja. Tetapi tentang membangun komunikasi dan kedekatan orang tua dan anak. Tentang menanamkan nilai dan pemahaman mendalam tentang hubungan yang sehat, sistem reproduksi yang sehat dan soal tanggung jawab moral.
Karena itu sampaikan di waktu yang tepat dan cara yang tepat. Dengan begitu, anak dan remaja punya pemahaman sesuai kapasitas usianya. Dengan pendekatan yang tepat dan dukungan sumber daya yang memadai, anak dan remaja dapat tumbuh menjadi individu yang percaya diri, bertanggung jawab, serta memiliki pemahaman yang sehat tentang seksualitas sepanjang hidupnya.
Referensi
MDPI. 2026. Effectiveness of Comprehensive Sexuality Education to Reduce Risk Sexual Behaviours Among Adolescents: A Systematic Review
WHO. 2023. Comprehensive sexuality education


